Bonek Biang Pertempuran 10 November

oleh: Arief Junianto

 Image

ISTILAH bonek dikenal sejak 1990-an. Bonek atau bondo nekat untuk menjuluki para suporter sepak bola yang tidak memiliki bekal atau modal (bondho). Namun mereka tak surut (nekat) untuk membela tim kesayangannya.

Perilaku bonek sebenarnya warisan turun-temurun yang berlangsung cukup lama. Perilaku ini bermigrasi dari masyarakat yang hidup di pinggiran sungai Brantas yang membentang dari Kediri sampai Surabaya.

Bentangan wilayah inilah yang kemudian dikenal sebagai ekologi budaya Arek. Cakupan wilayahnya membentang dari pesisir utara di Surabaya hingga ke daerah pedalaman selatan, daerah Malang. Wilayah ini tergolong paling pesat perkembangan ekonominya, 49 persen aktivitas ekonomi Jatim ada di sini. Tak heran bila arus migrasi dari wilayah lain banyak masuk ke kawasan ini.

Bentangan ini kemudian oleh budayawan Ayu Sutarto disebut salah satu sub kultur yang ada di Jawa Timur, yaitu subkultur Arek. Arek sebagai salah satu kekayaan kultur Jawa Timur memiliki karakteristik yang keras khas pesisiran.

Karakter keras tersebut pun lebih pada sikap pantang menyerah, ngeyel, dan keteguhan mempertahankan pendapat serta prinsip sebagai wujud penghargaan tertinggi mereka terhadap harga diri.

Karena banyak bersentuhan dengan pendatang dari latar budaya, mereka membentuk budaya yang khas, budaya komunitas Arek. Mereka mempunyai semangat juang tinggi, solidaritas kuat, dan terbuka terhadap perubahan.

Karakter semacam ini dijelaskan oleh Autar Abdillah sebagai perpaduan hegemoni Mataram dan kerasnya alam yang membentuk budaya Arek. Autar memaparkan itu dalam tesisnya berjudul Hegemoni Mataram Terhadap Budaya Arek. Menurut Autar, tantangan alam yang keras selama lebih dari lima abad membuat mental dan karakter generasi Arek praktis menjadi begitu teruji.

Budaya Arek, menurut dosen Sendratasik Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini, mengalami proses pembentukan yang panjang. Proses pembentukan itu bisa ditelusuri lewat buku Von Faber berjudul Er Werd Een Stad Geboren (1953). Di dalamnya terdapat pembabakan proses terbentuknya budaya Arek yang didasarkan pada peta yang dibuat pemerintah koloni sejak abad ke-9.

Setidaknya ada tiga peta yang telah dibuat, yakni abad ke-9, abad ke-10 dan abad ke-13. Ketiga peta ini merupakan sumber penting untuk memetakan perkembangan kondisi Surabaya, berikut karakter masyarakatnya.

Lebih jauh Autar menceritakan, sebelum seperti sekarang, kondisi Surabaya yang dulu, tepatnya di abad ke-4, masih berupa gugusan pulau kecil. Beberapa pulau yang kini menjadi kampung seperti Wonokromo, Ngasem, Rungkut, Bungkul, dan Bagong merupakan bukti bahwa sebenarnya kehidupan masyarakat Surabaya pada masa itu tidak bisa seperti sekarang yang dengan mudah bepergian dari satu kawasan ke kawasan lain.

Dominasi peraturan serta konvensi Majapahit dengan doktrin Hindu-Jawanya yang pada masa itu memang mengakar begitu kuat membuat munculnya banyak sekali pelanggaran-pelanggaran. Itulah latar belakang akhirnya dibangun sebuah penjara yang berada di kawasan Domas, sebuah pulau yang terletak di sebelah utara Bungkul dan Dadungan, meskipun kini baik kawasan Domas maupun Dadungan sudah lenyap, entah benar-benar lenyap atau berganti nama. Sedangkan kawasan Bungkul tetap ada hingga kini, hanya saja semakin bertambah luas wilayahnya.

Penjara Domas tersebut terbagai menjadi 8 tingkatan, mulai tingkatan awal yang merupakan tempat bagi narapidana yang sama sekali belum bisa dididik hingga menjadi masyarakat yang taat. Sampai pada tingkat terakhir yang merupakan tempat penggodokan atau pengayaan bagi narapidana yang sudah mulai bisa dikembalikan ke jalan yang sesuai dengan aturan yang ada.

Penjara Domas tersebut ditengarai merupakan penjara pertama yang menggunakan sistem hukuman kurung. Saking kerasnya, di penjara bagian awal, kecil kemungkinan bagi narapidana untuk bisa bertahan hidup.

Betapa tidak, dalam penjara yang terletak di pulau kecil sebelah utara Domas, di mana pulau tersebut akan tenggelam jika air laut sedang pasang. ”Jadi tidak mungkin narapidana yang dipenjara di sana bisa selamat,” kisah Autar.

Meski demikian, masih ada juga narapidana yang bisa selamat dari kepungan air laut yang pasang. Narapidana yang bisa selamat itu kemudian terus naik hingga ke tingkat paling akhir, untuk kemudian dilepas kembali ke masyarakat.

Narapidana yang berhasil lolos dari penjara bagian awal tersebut bisa dikatakan merupakan narapidana-narapidana yang memiliki semacam kesaktian, yang kebanyakan setelah menempuh kedelapan bagian penjara Domas. Mereka kemudian menempati wilayah Bungkul. Inilah yang kemudian membuat Bungkul menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang memiliki kesaktian.

Kerasnya kehidupan di Domas memang ditengarai yang memicu karakter keras dan pantang menyerah dari masyarakat Surabaya yang memang kemudian diturunkan dari generasi ke generasi.

Belum lagi ditambah tantangan alam yang sepertinya tidak pernah bersahabat dengan masyarakat waktu itu. Dalam kurun waktu lebih dari 431 tahun, mereka harus mengalami dampak dari 22 kali letusan Gunung Kelud. Lahar dingin yang terus membanjiri sungai, ditambah hujan abu yang begitu sering terjadi, membuat hidup mereka semakin susah.

Kesusahan hidup inilah yang secara lebih dari empat abad menempa dan membentuk mereka menjadi manusia yang kuat, tidak pantang menyerah, dan loyal pada tempat tinggalnya. Hingga akhirnya endapan lahar dingin Gunung Kelud semakin mempersatukan pulau-pulau yang terpisah itu menjadi satu daratan, dengan tambahan beberapa reklamasi yang dilakukan sendiri oleh warga.

”Meski susah, mereka tetap bertahan di tempat tinggal mereka,” ungkap Autar.

Hingga akhirnya masuklah invasi Mataram di tahun 1622-1625. Invasi ini setidaknya membawa pengaruh pada masyarakat, baik secara struktural, maupun secara kultural. Perubahan yang paling menonjol adalah perubahan dalam aspek kultural, dalam hal ini adalah bahasa dan tata hubungan masyarakat.

Kawasan sekitar sungai Brantas yang semula berkarakter egaliter, tanpa kelas, apa adanya, yang bisa dilihat dari bahasa yang mereka pakai yang juga merupakan bahasa Jawa ngoko, bahasa yang tidak membedakan kelas, berubah total setelah masuknya Mataram.

Invasi Mataram kemudian mengubah kebiasaan mereka. Bahasa yang mereka pakai pun perlahan terpengaruh oleh bahasa khas Mataraman, yang lebih halus dan memiliki strata bahasa yang sangat terstruktur.

Hal ini disebabkan hegemoni yang dilakukan Mataram dengan menempatkan ‘raja-raja kecil’ untuk menguasai wilayah-wilayah yang ada di sekitar sungai Brantas.

Ini dibenarkan oleh Akhudiat. Budayawan asal Surabaya ini mengisahkan bahwa setelah Majapahit ditaklukkan Mataram di masa pemerintahan Pangeran Pekik, praktis Mataram pun kemudian menguasai Surabaya dan daerah lain di sekitar sungai Brantas. Hingga akhirnya Surabaya pun saat itu dikuasai Unggul Sawelas, sebelas pemimpin Mataram.

Berbeda dengan wilayah yang berada di sisi barat sungai Brantas, wilayah di sisi sebelah timur sungai Brantas memang cenderung lebih susah ditaklukkan. Kebanyakan masyarakat di wilayah ini merupakan orang-orang buangan yang memiliki kekuatan baik fisik maupun metafisik.

Dengan modal inilah kemudian karakter Arek yang sudah tertanam dalam diri mereka dapat ’sedikit’ dipertahankan. Hingga akhirnya sampai kini masih bisa setia dilestarikan oleh masyarakat di daerah pesisir sungai Brantas, mulai Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Jombang, Mojokerto, Pasuruan, Malang, Kediri, dan Blitar.

”Maka muncullah budaya Arek yang meliputi wilayah dari Surabaya hingga Kediri dan Blitar,” ungkap Autar.

Memang, khusus Kediri dan Blitar, tergolong kasus yang unik. Betapa tidak, dua kota ini pada dasarnya memiliki dua kultur yang bertolak belakang. Meski bahasa dan dialek yang mereka gunakan menganut bahasa khas Mataraman yang halus dan berstrata, namun karakter asli beberapa dari mereka, seperti masyarakat yang berada di lereng Gunung Kelud dan pesisir sungai Brantas, tidak dapat dipungkiri, benar-benar khas Arek. Pantang menyerah, ngeyel, dan begitu teguh memegang prinsip serta pendapatnya.

”Khas Majapahitan, yang selalu merasa lebih unggul dari kaum mana pun,” tegas Akhudiat.

Jadi, falsafah bonek, yakni bondo nekat sebenarnya merupakan sebuah wajah asli dari masyarakat pesisir sungai Brantas, khususnya Surabaya.

Hingga tidak bisa dipungkiri, semangat pantang menyerah dan keteguhan memegang prinsip dan harga diri mereka merupakan faktor utama pecahnya perang 10 November 1945 yang ditengarai merupakan tonggak awal munculnya istilah Arek.

Oleh karena itulah, perang revolusi 10 November 1945 bukanlah tonggak awal, melainkan lebih merupakan titik kulminasi dari munculnya karakter dan budaya Arek tersebut. ”Gara-gara kekerasan kepala masyarakat Surabaya yang tidak mau mematuhi ultimatum Mansergh, pecahlah perang besar 10 November 1945,” pungkas Autar. *

Salam Perlawanan…!!!

Diam Tertindas atau Bergerak Melawan#

Iklan

Gimme a P
Gimme an E
Gimme an E
Gimme a W
Gimme an E
Gimme an E
Go go PEE WEE go go cmon cmon!
Go go PEE WEE go goooo!
Making love in back seat of the car
With the ocean breeze slipping thru your hair
This is the best part of my life
Far away from the classroom drama
Making sure we are having a good time
These are the things that makes me smile
Pick it up! pick it up! with this song tonite
Get ready for a revolution
(The long recess is over)
Freshmen’s year has gone gotta take it away with all we’ve got
(all got we’ve got)
Get ready for a revolution
(The long recess is over)
And i know everything will be alright
Tu tu ru tu ru tu ru ru ru
Tu tu ru tu ru makes me wanna say
Tu tu ru tu ru tu ru ru ru
Tu tu ru tu ru makes me wanna say
I know this weekend will be better than the last
Sometimes life gets harder everyday
Right now things will never be the same
Stand up! with everything you’ve got
Cus after all we’re the one whos winning

Making love in the backseat of the car
With the ocean breeze slipping thru your hair
This is the best part of my life

Muse’s Discography

Posted: 02/02/2012 in Hiburan


 

 

 

 

 

 

Surabaya dan Sidoarjo merupakan wilayah yang sangat dekat secara geografis bahkan sejumlah fasilitas umum vital ‘milik’ Surabaya terdapat di Kabupaten Sidoarjo. Namun keakjraban geografis itu beda kondisi dengan hubungan SUPORTER kedua kota walaupun sejatinya mereka berasal dari satu induk yang sama.

Tahun 2001 Pengusaha asal Sidoarjo bernama HM Mislan membeli klub Gelora Dewata 89 asal Bali. Lantas tim tersebut berganti nama menjadi Gelora Putra Delta dan menjadikan Gelora Delta sebagai kandang mereka. disaat yang sama mayoritas warga Sidoarjo membanggakan dirinya sebagai Bonek walaupun Sidoarjo telah memiliki tim GPD.

11 Mei 2001 Kerusuhan Gelora Delta pecah….

15 Luka, 7 Mobil dan 2 Motor Dirusak

SIDOARJO – Bentrokan suporter kembali terjadi di Jatim. Kali ini di Stadion Gelora Delta Sidoarjo ketika Gelora Putra Delta menjamu Arema pada pembukaan putaran kedua Ligina VII, sore kemarin. Akibat kerusuhan itu, pertandingan dihentikan pada menit ke-29, saat kedudukan 0 – 0. Sampai tadi malam, belum ada keputusan pasti kapan pertandingan dilanjutkan. Wasit Wardiono menghentikan pertandingan itu dengan alasan force majeur. Suasana stadion memang benar-benar mencekam. Suporter kedua kubu sudah tidak dapat dikendalikan lagi. Suasana bakal memanas sebetulnya telah terasa sejak awal. Penonton membeludak sampai ke sintelbaan yang menjadi lintasan atletik. Padahal, daerah itu terlarang bagi penonton. Maklum, lintasan atletik yang dibangun menjelang PON XV tersebut bernilai Rp 14 miliar. (Berita lain lihat halaman olahraga, Red). Aparat keamanan sudah berusaha mengatasi luberan penonton. Tapi, 500 personel yang diturunkan tak kuasa mengimbangi sekitar 25.000 penonton yang menjubeli stadion baru tersebut. Ketegangan sudah terjadi sebelum pertandingan. Penonton di sebelah utara dilempari batu dari luar stadion. Kejadian ini berlanjut hingga pertandingan berjalan. Di lapangan, permainan berlangsung keras. Striker Joko Susilo jadi korban. Tangan kanannya patah. Dia terpaksa ditandu keluar dan tangannya harus dibantu kain penyangga. Bukan itu saja. Pemain kedua kubu juga beberapa kali terlibat adu fisik. Legiun asing GPD asal Cile, Fernando Guajardo, ditampar Charis Yulianto, pemain belakang Arema. Tampaknya, kejadian itu tak bisa diterima suporter tuan rumah. Mereka melemparkan batu dan botol bekas minuman ke arah sekelompok Aremania. Termasuk ke manajer Arema Iwan Budianto yang berlindung di tempat pemain. Pada menit ke-18, suporter kedua tim yang berada di tribun belakang gawang Arema terlibat perang batu. Kejadian ini membuat petugas keamanan melepaskan tembakan peringatan ke udara. Perang batu berhenti sebentar, tapi kemudian terjadi lagi. Kerusuhan besar berawal saat tiga Aremania baru keluar dari ruang medis. Salah satu di antara tiga suporter itu mengalami luka di telinga dan perlu pengobatan. Ketika kembali ke tribun Aremania, mereka berpapasan dengan suporter tuan rumah. Sebetulnya, tiga Aremania itu sudah dicegah petugas keamanan agar tak keluar dulu karena situasi masih panas. Tapi, mereka ngotot. Akibatnya, mereka dikejar-kejar suporter tuan rumah. Itu terjadi di lintasan atletik yang terbuat dari tartan. Tak ada tempat berlindung, tiga Aremania itu lari ke tengah lapangan. Kejadian ini memancing amarah ribuan Aremania yang berada di tribun. Mereka langsung turun ke lapangan, merusak beberapa papan sponsor di sekeliling stadion. Beberapa saat kemudian, mereka digiring ke luar stadion. Di luar, mereka meneruskan acara rusak-rusakan itu ke kios-kios di sekitar stadion. Salah satu korbannya adalah MI-45 Gym Fitness & Aerobic milik Wakil Bupati Sidoarjo Syaiful Illah SH. Di depan Wartel Ananda Jaya, berdiri seorang ibu tua, Sudarmiati, beserta anaknya, Sinyo, 17. Mereka memohon agar tidak dirusak. Tapi, sebuah batu memecahkan kaca jendela wartel. “Untung, ibu saya tidak cedera. Kami hanya bisa pasrah,” keluh Sinyo kepada Jawa Pos. Seorang pemuda bernama Andik, asal Lamongan, dihajar puluhan Aremania. “Saya tidak tahu mengapa saya tiba-tiba dihajar seperti itu,” kata Andik yang mengalami luka di kening kanannya akibat pukulan benda tajam. Lukanya menganga sekitar 3 cm. Darah terus mengucur. Di tengah kerusuhan itu, segerombolan anak muda yang mengendarai mobil Kijang putih dengan nomor polisi N 1473 ET sempat berfoto ria di depan kayu reruntuhan kios yang dibakar. Ribuan Aremania yang berseragam biru-biru itu memang menguasai stadion dan sekitarnya. Terutama di Jalan Pahlawan. Mereka mendesak Delta Force -julukan suporter Gelora- ke timur hingga perempatan Babalayar. Mereka tidak hanya melempari suporter lawan, tetapi juga warga setempat. Beberapa pasukan Brimob berusaha meredam aksi mereka, tetapi tidak berhasil. Apalagi jumlah Aremania semakin banyak dari barat. Setelah berlangsung sekitar 30 menit, warga dan Delta Force mendapat bala bantuan entah dari mana. Mereka balik memukul Aremania ke barat. Kocar-kacir. Sebagian besar berlari menuju stasiun melalui pintu perlintasan KA di Jalan Pahlawan. Beberapa saat kemudian, dari timur, sepasukan Polisi Dalmas dari polres melakukan sweeping. Demikian pula dari barat, pasukan gabungan itu membubarkan massa dan sempat meletuskan serentetan tembakan. Setelah hari gelap, suporter Delta sudah menguasai ruas Jalan Pahlawan. Ketika ada kereta lewat dari selatan, massa yang menumpuk di lintasan KA berupaya menghentikan. Mereka memeriksa apakah ada Aremania. Baru setelah diyakinkan petugas, kereta diperbolehkan jalan ke arah Surabaya. Akibat kerusuhan itu, pot-pot bunga yang terpajang di trotoar berantakan. Sedikitnya sepuluh bangunan di sepanjang Jalan Pahlawan kaca-kacanya remuk. Tidak itu saja. Sembilan kendaraan bermotor dirusak dan dibakar. Dua sepeda motor, Honda GL N 1976 AD dan Yamaha FIZ L 5867 MC, menjadi arang di sekitar GOR Delta. Sedan Timor B 2043 UC yang diparkir di selatan GOR juga membara. Sedan Ford merah Nopol L 744 MM milik Choirul, warga Perum Magersari, hancur kaca depan, samping, dan belakang. Chevrolet boks L 2965 ED juga mengalami nasib serupa. Sementara itu, Troper L 1045 AT yang hancur kacanya mengakibatkan sopir Herry Purwanto, warga Graha Kuncara, dilarikan ke RS karena menderita luka di lambung. Taksi Bosowa Nopol L 979 ED dan Kijang putih B 2515 RK hancur di bagian kaca depan dan kaca lampu. Malah, tape di Kijang B 2515 RK dijarah massa. Keenam mobil itu, menurut sopir-sopir yang melapor ke polres, terjebak kemacetan akibat melubernya suporter di pintu tol Sidoarjo. Kapolres Sidoarjo AKBP Drs Budi Susilo melalui Kapuskodalops AKP Amin Litarso yang langsung terjun ke lapangan mengatakan, keadaan kota mulai dikuasai sejak pukul 19.00. Semua suporter Arema sudah dievakuasi melalui jalan tol. Sebagian melalui stasiun dengan kereta darurat yang didatangkan dari Surabaya. Menurut Kapuskodalops, belum ada yang ditahan dari bentrok antarsuporter itu. Paling tidak 15 orang sempat dirawat di Instalasi Rawat Darurat (IRD) RSUD Sidoarjo hingga pukul 20.00. Fatkurozi, warga Kalitengah Selatan, Tanggulangin, jari tengah tangan kirinya terluka parah tergores seng saat memanjat tembok stadion. Akibatnya, jari tengahnya harus diamputasi. Keributan suporter tersebut membuat suasana Sidoarjo mencekam. Apalagi puluhan kali terdengar tembakan petugas. Warga, terutama yang tinggal di perumahan di sekitar stadion, ketakutan. Itu karena massa yang berhamburan juga masuk kompleks perumahan. Misalnya, di Pondok Mutiara dan Taman Pinang. Situasi tersebut memaksa pemilik ruko di pertokoan Mutiara langsung menutup pintunya. Apalagi massa yang masih terlibat aksi saling lempar memanfaatkan bangunan ruko dan rumah untuk berlindung. Akibatnya, rumah dan ruko itu pun jadi sasaran lemparan. Paling parah terjadi di Pondok Mutiara. Seluruh lampu jalan di taman perumahan hancur. Berita keributan itu langsung menyebar ke seluruh kota. Akibatnya, seluruh toko di Jalan Gadjah Mada dan Mojopahit, yang agak jauh dari stadion, juga memilih tutup. Sementara itu, arus lalu lintas kacau balau. Menjelang malam, situasi mencekam bergeser ke pintu tol Gempol. Terjadi pencegatan suporter Arema yang pulang lewat jalur tersebut. Diduga, suporter Sidoarjo yang tidak puas mencegatnya di sana. (aww/okt/wko)

ini yang menjadi tolak balik suporter Sidoarjo untuk memusuhi Arema.

semenjak aksi itu Aremania dilarang hadir di Gelora Delta dan sejak saat itu pula masyarakat Surabaya ataupun juga Bonek hadir untuk mendukung GPD walaupun hanya sebagai tim kedua. Banyak Bonek baik asal Sidoarjo ataupun juga asal Surabaya yang mendukung GPD yang lantas berubah nama menjdi DELTA PUTRA SIDOARJO alias DELTRAS SIDOARJO. Prestasi Deltrasyang tidak baik tak ayal membuat warga Sidoarjo balik mendukung Persebaya bahkan Sidoarjo menjadi kantung terbesar kekuatan Bonek luar kota disamping Gresi

Tahun 2007

Copa Indonesia dimana terjadi perteuan antara Persebaya Surabaya vs Deltras Sidoarjo Leg 1 digelar di Gelora 10 November tidak ada gesekan yang timbul antara Delta Mania dan Bonek bahkan waktu itu saya pernah mendengar nyanyian Delta-Bonek kita saudara NAMUN ENTAH APA YANG MERSUKI PIKIREAN DELTAMANIA.

ada leg kedua jangankan ada nyanyian itu di GDS penghinaan pun yang muncul. Bonek di sweaping saat memasuki perbatasan Sidoarjo bahakan waktu itu Bonek diminta untuk pulang dengan alasan GDS telah full dengan Bok. sesamapinya di GDS ternyata dugaan saya benar GDS Full hijau bahkan pertandingan tersebut tak ubahnya seperti laga home bagi Persebaya. namun apa yang terjadi di GDS beda jauh dgan yg terjadi di Tambaksari. sebuah nyanyian yang berisi menghujat hadir dengan lirik Persebaya j*****k, Bonek j*****k dibunuh saja. Lantamendengar nyanyian ini Bonek langsung tersulut emosinya. merka melempari Pemain Deltras. namun saya tetap yakin itu adalah ulah PROVOKATOR YANG DIPIMPIN OLEH GOBES. saya pun tetap yakin jika tidak semua Deltamania menyanyikan lagu itu.

Tahun 2010

Pertandingan Deltras Sidoarjo melawan Persis Solo digelar dengan bayang-bayang ancaman dari Bonek yang melakukuan ‘balas dendam’ atas pelemparan yang telah dialami saat bertandang Ke Bandung. Ribuan Bonek hadir di GDS untuk mendukung Deltras Sidoarjo yang membutuhkan poin agar mereka dapat lolos ke ISL. Pertandingan itu berlangsung aman dan tidak ada kendala berarti.

Permainan Deltras yang konsisten tak ayal membuat tim ini berhak lolos ke Babak 8 Besar Divisi Utama. merekapun menjadi tuanrumah. selain Deltras tim lain yakni Persibo Bojonegoro,Persipasi Bekasi,Persidafon Dafonsoro juga bertanding di GDS guna memperebutkan tiket ke ISL. MUNGKIN INI NYANYIAN TERAKHIR UNTUK MENGHUJAT RIVAL DI GDS. Pada saat itu Deltamania,Bonek dan Boromania menyanyikan lagu.

Siapa Bilang Indonesia Arema Jancok.

Indonesia milik kita Semua.

yang Bilang Indonesia Arema Jancok.

itu orang yang tak pernah sekolah.

nynyian itu menjadi nyanyian terakhir yang dinyanyikan Bonek bersama Delta dan Boro.

PialaGubernur 2010 menjadi awal perpecahn kami. saat terjadi Gol pertama seseorang menyanyikan lagu provokatif dengan mengatakan sampek elek sampek tuek bonek elek mangan t*****k. lantas ini mengundang emosi drai rekan Bonek. dan betapa terkejutnya saya jika diantara Deltamania yang lagi-lagi kalah jumlah itu ada seseorang yang mengibarkan Bendera Arema masuk kedalam Lintasan Atletik dan membuka (maaf:kemaluan) ke arah Bonek. Bonek pun marah dengan melemparkan Kembang Api ke arah Deltamania. sejak saat itu hubungan Deltamania kembali memanas.

Deltras vs Persib

Pertandingan Lanjutan ISL mempertemukan Deltras dgan Persib Bandung menjadi puncak memanasnya hubungan antara Delta dengan Bonek. Banyak Deltmania yang dipukuli oknum Bonek Viking yang saat itu kesal dengan nyanyian rasis Deltamania. paska pertandingan itu kita dapat melihat coretan di dinding dari Waru hingga Porong yang berisi saling ejek antara Bonek dengan Delta. cukup disayangkan jika Deltamania ini ‘durhaka’ padahal yang terjadi di Lpngan mayoritas wargaSidoarjo adalah Bonek.

Penyerbuan markas Deltamaina

usai Pertandingan ujicoba Persekabpas kontra Persebaya di Bangil Pasuruan Bonek yang geram dengan ulah Deltamania menyerbu markas Deltamania. Bonek yang akan pulang keSurabaya tiba-tiba berbelok ke Gelora Delta untuk menyerbu markas Deltamania. sejumlah inventaris Deltamania rusak dan hilang akibat penyerangan ini.

bahkan akibatb kejadian ini Deltamania lebih memilih bergabung dengan Aremania. Sungguh kisah yang amat tragis mengingat Aremania telah menghancurken Gelora Delta di tahun 2001. terlebih jika seorang yang bernama GOBES pemimpin mereka meyulut gerkan anti Bonek di Sidoarjo. semenjak itupula Bonek wilayah selatan(Sidoarjo,Pasuruan,Malang,Banyuwangi) dan Barat yang akan mendukung Persebaya selalu berperang dengan Deltamania.

Entah sampai kapan ini akan terus Berlanjut kitapun tak tau…

SALAM SATOE NYALI ::

W A N I !!!

The Escalator

Posted: 01/02/2012 in Hiburan

Deny,Gipek,dan MasRoy sendiri….