Arsip untuk Maret, 2012

BONEK ADALAH KEBERSAMAAN

Posted: 31/03/2012 in Bonek

SEDIKIT CERITA TENTANG BONEK ….

 

 

 

 

 

 

 

 

Sekilas pandangan masyarakat awam tentang bonek adalah suporter perusuh, penjarah, radikal, berandal dan yang pastinya berbau kriminal. Kami akui, memang kami bonek bukanlah suporter terbaik tapi kami bonekmania slalu mencoba ingin jadi lebih baik. Bonek adalah suporter sepak bola. Dan pastinya BONEK ADALAH BONEK. Bonek bukanlah suporter yang bilamana anarkis selalu mengatasnamakan oknum suporter, bukan mengakuinya dan meminta maaf.

Bonek anarkis, bonek bikin ulah, bonek menjarah pedagang. Itulah headline yang slalu menghiasi media massa saat bonek tur ke luar kota. Media massa bagaikan ketiban rejeki saat bonek tur ke luar kota. Bagaikan dalam perlombaan, para pewarta berita berlomba-lomba memberitakan perjalanan tur bonek dengan mengarang indah dan pemberitaan yang paling menjual tanpa memandang kode etik pers. Masih jelas dalam ingatan saya, 24 Januari 2010 Bonek tur bandung diserang di solo. Dalam cuplikan video pada media massa menayangkan bonek yang kala itu di dalam dan di atas gerbong kereta diserang warga, bukan bonek yang menyerang, tapi dalam pembritaan headline nya

Bandingkan dengan berpuluh-puluh ribu Aremania tur jakarta pada saat akhir kompetisi ISL 2010 Persija vs Arema. Adakah pemberitaan aremania yang mencolok? Seolah-olah tidak terjadi apa-apa dalam dengan perjalanan arema. Padahal tur tersebut memakan korban 11 Aremania meninggal dunia (sumber : malang tv). Atau mungkin media massa takut beritanya tidak laku keras tidak seperti pemberitaan tur Bonek? Sampai-sampai Bonek dijadikan cerita bahan lawakan dalam sebuah acara komedi di tv swasta karena rating pemberitannya yang tinggi.

Kita putar memori kembali saat pelita karawang vs persebaya. Bonek yang datang ke stadion singaperbangsa karawang diserang oleh oknum suporter tuan rumah, dan besok paginya muncul diberitakan di redaksi berita olahraga ternama tentang bonek menyerang suporter tuan rumah. Dengan kemajuan teknologi saya mengajak teman-teman bonek yang ada di grup facebook saya, untuk menyebarkan ke grup yang laen untuk mengirim email protes ke redaksi tersebut. Alhamdulillah 2-3 hari setelah email tersebut dikirim, pihak redaksi meminta maaf kepada pengurus bonek

Dan di sini saya mengajak kepada teman-teman bonek se jagat raya, bila nantinya ada pemberitaan miring tentang bonek mari kita berlomba-lomba mengirim email protes kepada media massa agar nama bonek tidak semakin tercoreng gara-gara ulah oknum wartawan pemburu harga bukan pemburu berita. Kita manfaatkan fasilitas yang ada saat ini, teknologi udah maju dulur.

Sebelumnya saya pernah kuliah di malang dan sedikit banyak saya mengerti perbedaan bonek dan seterunya aremania. Pada umumnya Bonek dan Aremania sama, sama-sama suporter fanatik, suporter terbesar. Di Bonek ada suporter cinta damai, di aremania juga ada suporter cinta damai, di bonek ada suporter garis keras bonek ’89, di aremania ada suporter sirag sarek ’87, di bonek ada yang resek, di aremania juga ada yang resek. Intinya gak semuanya bonek itu resek, tapi juga masih cinta damai. Gak semuanya aremania cinta damai tapi masih juga aremania resek.

Saya sendiri menganut faham bonekisme “Biarkanlah orang menganggap luar kita radikal, tapi dalam hati kita bermoral. Daripada orang menganggap luar kita terbaik, tapi itu hanya munafik”

Tapi di sini perbedaannya, bonek yang kala tur berbuat anarkis dan menjarah. Langsung stigma anarkis itu melekat pada diri bonek. Perlu diketahui tidak semuanya bonek itu anarkis. Masih ingat bulan ramadhan kemarin? Kelompok-kelompok suporter bonek yang ada di surabaya, sidoarjo, gresik, pasuruan, maupun jember dan daerah-daerah lain membagikan ta’jil ke pengendara umum. Tapi di sini yang saya banggakan, ketika bonek dicaci maki saat melakukan tindakan anarkis. Mereka menerimanya dengan lapang dada, bukan malah munafik menuduh oknum-oknum tertentu yang tidak bertanggung jawab melakukannya. Bukan malah mencari-cari alasan lain agar namanya tidak jelek di mata masyarakat yang mengurangi titel “suporter cinta damai”nya.

Kalau aremania? Anda pasti bisa menilainya sendirilah. Tidak perlu saya jelaskan di sini. Cukup menengok tragedi pembakaran stadion wilis madiun tahun 2005, stadion brawijaya kediri, konvoian aremania juara ISL 2010, perjalanan pulang dari tur solo (final piala indonesia 2010) dan yang terakher pulang dari tur jakarta di stasiun kediri. Melempari warga-warga sekitar stasiun yang tidak bersalah. Tapi maukah mereka mengakui perbuatan mereka??

Dan juga selama saya tinggal di malang, saya sedikit banyak menemukan 100% asli kera ngalam yang berdomisili di malang pendukung persebaya (bonek). Ketika saya bertanya kepada mereka mulai kapan mendukung persebaya jawabnya mereka menjadi Bonek sudah mulai kecil yang diwarisi oleh bapak-bapaknya. Dulu memang banyak bonek yang berasal dari malang, tapi sekarang sudah tidak sebanyak dulu lagi karena mereka sudah mempunyai tim daerahnya sendiri arema dan apalagi arema sedang naik daun.

Saya mencoba bertanya lebih jauh mengapa mereka tetap setia mendukung persebaya, jelas-jelas sekarang arema lagi naik daun. Mereka menjawab “tim ada di atas dan di bawah itu wajar, seperti roda berputar”. Mereka sudah terlalu banyak mengerti kelebihan dan kekurangan bonek dan juga aremania, yang pada kesimpulannya ternyata bonek dan aremania sama saja. Yang paling menonjol dan membedakan bonek dari aremania adalah persatuan suporter bonek, kesetia kawanan. Akan terasa jika pertandingan di luar kandang. Bonek-bonek berbondong-bondong berangkat ke kota tujuan dengan bekal seadanya demi mendukung persebaya. Bekal seadanya tidak menyurutkan mereka untuk bersatu. Ada yang membawa duit lebih, mereka malah ikut menemani teman mereka yang tidak mempunyai uang untuk nggandol truk maupun kereta. Seperti contoh misal bonek dari surabaya di tengah perjalanan bertemu dengan bonek dari pasuruan, mereka dengan cepat akrabnya langsung bersatu untuk mencapai kota tujuan. Yang penting sampai di kota tujuan dan mendukung tim kesayangan Persebaya. Jangan heran kalau di tengah perjalanan bertemu dengan rombongan bonek yang makan nasi bungkus dimakan ramai-ramai. Itu karena keterbatasan bekal yang ada tetapi tidak menyurutkan persatuan bonek yang ada.

Berbeda dengan aremania, saat tur luar kandang. Mereka saling berlomba mempercantik dan membanggakan korwil masing-masing. Ada yang naik bis, kereta, mobil pribadi. Kalaupun di jalan bertemu dengan aremania lain yang sedang tidak mempunyai uang, mereka acuh tak acuh. Mereka berpendapat, “salah dewe bondo nekat, arema gak bondo nekat, arema bondo duit”. Saya sendiri juga mempunyai teman aremania, dia bercerita saat itu pulang dari tur lamongan menonton persik vs arema. Dia dan teman-temannya pulang tidak mendapatkan bis umum, pengin ikut rombongan aremania yang naik bis mereka dilarang naik. Bukan rahasia lagi, kalau di stadion kanjuruhan maupun di mana saja terjadi persaingan antar korwil aremania di malang.

Saling mengunggulkan yang terbaik. Saling tawuran sesama aremania. Maka dari fakta di ataslah, bonek-bonek asli malang bangga menjadi bonek. Bangga mendukung persebaya.

“Bonek ingat tujuan menjadi suporter, mendukung tim, bukan berlomba menjadi suporter terbaik.

salam 1 nyalii ,, wanii .!! >> kabeh dulur <<

# RV #

Iklan

Coz I’ll do, I’ll do to love you

But I just really wanna try

That’s why you leave me and now you’re gone

My brain stop thinking, it’s to late I can controlling… I can controlling.

She’s perfect person, she’s let me down

My heart goes round’n when you’re not around yeaahhh…

This last the song, the picture of deep inside my heart

Can I tell you something that I’m not ready to be alone…

Here comes the truth of mention

But you just wanna get so far..

Don’t ever be the same

Some love or word can make you different

Coz I’ll do, I’ll do to love you

But I just really wanna try

That’s why you leave me and now you’re gone

This complication, so burn my imagination… imagination

Simple words for sweet of curse

And conversations for real explanation

So right your trought to where you are A part deserve it…… A part deserve it

And you just try to carry on

My heart goes round’n when you’re not around yeaahhh…

This last the song, the picture of deep inside my heart

Can I tell you something that I’m not ready to be alone…

Here comes the truth of mention

But you just wanna get so far..

Don’t ever be the same

Some love or word can make you different

Coz I’ll do, I’ll do to love you

But I just really wanna try

That’s why you leave me and now you’re gone

Bonek Biang Pertempuran 10 November

oleh: Arief Junianto

 Image

ISTILAH bonek dikenal sejak 1990-an. Bonek atau bondo nekat untuk menjuluki para suporter sepak bola yang tidak memiliki bekal atau modal (bondho). Namun mereka tak surut (nekat) untuk membela tim kesayangannya.

Perilaku bonek sebenarnya warisan turun-temurun yang berlangsung cukup lama. Perilaku ini bermigrasi dari masyarakat yang hidup di pinggiran sungai Brantas yang membentang dari Kediri sampai Surabaya.

Bentangan wilayah inilah yang kemudian dikenal sebagai ekologi budaya Arek. Cakupan wilayahnya membentang dari pesisir utara di Surabaya hingga ke daerah pedalaman selatan, daerah Malang. Wilayah ini tergolong paling pesat perkembangan ekonominya, 49 persen aktivitas ekonomi Jatim ada di sini. Tak heran bila arus migrasi dari wilayah lain banyak masuk ke kawasan ini.

Bentangan ini kemudian oleh budayawan Ayu Sutarto disebut salah satu sub kultur yang ada di Jawa Timur, yaitu subkultur Arek. Arek sebagai salah satu kekayaan kultur Jawa Timur memiliki karakteristik yang keras khas pesisiran.

Karakter keras tersebut pun lebih pada sikap pantang menyerah, ngeyel, dan keteguhan mempertahankan pendapat serta prinsip sebagai wujud penghargaan tertinggi mereka terhadap harga diri.

Karena banyak bersentuhan dengan pendatang dari latar budaya, mereka membentuk budaya yang khas, budaya komunitas Arek. Mereka mempunyai semangat juang tinggi, solidaritas kuat, dan terbuka terhadap perubahan.

Karakter semacam ini dijelaskan oleh Autar Abdillah sebagai perpaduan hegemoni Mataram dan kerasnya alam yang membentuk budaya Arek. Autar memaparkan itu dalam tesisnya berjudul Hegemoni Mataram Terhadap Budaya Arek. Menurut Autar, tantangan alam yang keras selama lebih dari lima abad membuat mental dan karakter generasi Arek praktis menjadi begitu teruji.

Budaya Arek, menurut dosen Sendratasik Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini, mengalami proses pembentukan yang panjang. Proses pembentukan itu bisa ditelusuri lewat buku Von Faber berjudul Er Werd Een Stad Geboren (1953). Di dalamnya terdapat pembabakan proses terbentuknya budaya Arek yang didasarkan pada peta yang dibuat pemerintah koloni sejak abad ke-9.

Setidaknya ada tiga peta yang telah dibuat, yakni abad ke-9, abad ke-10 dan abad ke-13. Ketiga peta ini merupakan sumber penting untuk memetakan perkembangan kondisi Surabaya, berikut karakter masyarakatnya.

Lebih jauh Autar menceritakan, sebelum seperti sekarang, kondisi Surabaya yang dulu, tepatnya di abad ke-4, masih berupa gugusan pulau kecil. Beberapa pulau yang kini menjadi kampung seperti Wonokromo, Ngasem, Rungkut, Bungkul, dan Bagong merupakan bukti bahwa sebenarnya kehidupan masyarakat Surabaya pada masa itu tidak bisa seperti sekarang yang dengan mudah bepergian dari satu kawasan ke kawasan lain.

Dominasi peraturan serta konvensi Majapahit dengan doktrin Hindu-Jawanya yang pada masa itu memang mengakar begitu kuat membuat munculnya banyak sekali pelanggaran-pelanggaran. Itulah latar belakang akhirnya dibangun sebuah penjara yang berada di kawasan Domas, sebuah pulau yang terletak di sebelah utara Bungkul dan Dadungan, meskipun kini baik kawasan Domas maupun Dadungan sudah lenyap, entah benar-benar lenyap atau berganti nama. Sedangkan kawasan Bungkul tetap ada hingga kini, hanya saja semakin bertambah luas wilayahnya.

Penjara Domas tersebut terbagai menjadi 8 tingkatan, mulai tingkatan awal yang merupakan tempat bagi narapidana yang sama sekali belum bisa dididik hingga menjadi masyarakat yang taat. Sampai pada tingkat terakhir yang merupakan tempat penggodokan atau pengayaan bagi narapidana yang sudah mulai bisa dikembalikan ke jalan yang sesuai dengan aturan yang ada.

Penjara Domas tersebut ditengarai merupakan penjara pertama yang menggunakan sistem hukuman kurung. Saking kerasnya, di penjara bagian awal, kecil kemungkinan bagi narapidana untuk bisa bertahan hidup.

Betapa tidak, dalam penjara yang terletak di pulau kecil sebelah utara Domas, di mana pulau tersebut akan tenggelam jika air laut sedang pasang. ”Jadi tidak mungkin narapidana yang dipenjara di sana bisa selamat,” kisah Autar.

Meski demikian, masih ada juga narapidana yang bisa selamat dari kepungan air laut yang pasang. Narapidana yang bisa selamat itu kemudian terus naik hingga ke tingkat paling akhir, untuk kemudian dilepas kembali ke masyarakat.

Narapidana yang berhasil lolos dari penjara bagian awal tersebut bisa dikatakan merupakan narapidana-narapidana yang memiliki semacam kesaktian, yang kebanyakan setelah menempuh kedelapan bagian penjara Domas. Mereka kemudian menempati wilayah Bungkul. Inilah yang kemudian membuat Bungkul menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang memiliki kesaktian.

Kerasnya kehidupan di Domas memang ditengarai yang memicu karakter keras dan pantang menyerah dari masyarakat Surabaya yang memang kemudian diturunkan dari generasi ke generasi.

Belum lagi ditambah tantangan alam yang sepertinya tidak pernah bersahabat dengan masyarakat waktu itu. Dalam kurun waktu lebih dari 431 tahun, mereka harus mengalami dampak dari 22 kali letusan Gunung Kelud. Lahar dingin yang terus membanjiri sungai, ditambah hujan abu yang begitu sering terjadi, membuat hidup mereka semakin susah.

Kesusahan hidup inilah yang secara lebih dari empat abad menempa dan membentuk mereka menjadi manusia yang kuat, tidak pantang menyerah, dan loyal pada tempat tinggalnya. Hingga akhirnya endapan lahar dingin Gunung Kelud semakin mempersatukan pulau-pulau yang terpisah itu menjadi satu daratan, dengan tambahan beberapa reklamasi yang dilakukan sendiri oleh warga.

”Meski susah, mereka tetap bertahan di tempat tinggal mereka,” ungkap Autar.

Hingga akhirnya masuklah invasi Mataram di tahun 1622-1625. Invasi ini setidaknya membawa pengaruh pada masyarakat, baik secara struktural, maupun secara kultural. Perubahan yang paling menonjol adalah perubahan dalam aspek kultural, dalam hal ini adalah bahasa dan tata hubungan masyarakat.

Kawasan sekitar sungai Brantas yang semula berkarakter egaliter, tanpa kelas, apa adanya, yang bisa dilihat dari bahasa yang mereka pakai yang juga merupakan bahasa Jawa ngoko, bahasa yang tidak membedakan kelas, berubah total setelah masuknya Mataram.

Invasi Mataram kemudian mengubah kebiasaan mereka. Bahasa yang mereka pakai pun perlahan terpengaruh oleh bahasa khas Mataraman, yang lebih halus dan memiliki strata bahasa yang sangat terstruktur.

Hal ini disebabkan hegemoni yang dilakukan Mataram dengan menempatkan ‘raja-raja kecil’ untuk menguasai wilayah-wilayah yang ada di sekitar sungai Brantas.

Ini dibenarkan oleh Akhudiat. Budayawan asal Surabaya ini mengisahkan bahwa setelah Majapahit ditaklukkan Mataram di masa pemerintahan Pangeran Pekik, praktis Mataram pun kemudian menguasai Surabaya dan daerah lain di sekitar sungai Brantas. Hingga akhirnya Surabaya pun saat itu dikuasai Unggul Sawelas, sebelas pemimpin Mataram.

Berbeda dengan wilayah yang berada di sisi barat sungai Brantas, wilayah di sisi sebelah timur sungai Brantas memang cenderung lebih susah ditaklukkan. Kebanyakan masyarakat di wilayah ini merupakan orang-orang buangan yang memiliki kekuatan baik fisik maupun metafisik.

Dengan modal inilah kemudian karakter Arek yang sudah tertanam dalam diri mereka dapat ’sedikit’ dipertahankan. Hingga akhirnya sampai kini masih bisa setia dilestarikan oleh masyarakat di daerah pesisir sungai Brantas, mulai Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Jombang, Mojokerto, Pasuruan, Malang, Kediri, dan Blitar.

”Maka muncullah budaya Arek yang meliputi wilayah dari Surabaya hingga Kediri dan Blitar,” ungkap Autar.

Memang, khusus Kediri dan Blitar, tergolong kasus yang unik. Betapa tidak, dua kota ini pada dasarnya memiliki dua kultur yang bertolak belakang. Meski bahasa dan dialek yang mereka gunakan menganut bahasa khas Mataraman yang halus dan berstrata, namun karakter asli beberapa dari mereka, seperti masyarakat yang berada di lereng Gunung Kelud dan pesisir sungai Brantas, tidak dapat dipungkiri, benar-benar khas Arek. Pantang menyerah, ngeyel, dan begitu teguh memegang prinsip serta pendapatnya.

”Khas Majapahitan, yang selalu merasa lebih unggul dari kaum mana pun,” tegas Akhudiat.

Jadi, falsafah bonek, yakni bondo nekat sebenarnya merupakan sebuah wajah asli dari masyarakat pesisir sungai Brantas, khususnya Surabaya.

Hingga tidak bisa dipungkiri, semangat pantang menyerah dan keteguhan memegang prinsip dan harga diri mereka merupakan faktor utama pecahnya perang 10 November 1945 yang ditengarai merupakan tonggak awal munculnya istilah Arek.

Oleh karena itulah, perang revolusi 10 November 1945 bukanlah tonggak awal, melainkan lebih merupakan titik kulminasi dari munculnya karakter dan budaya Arek tersebut. ”Gara-gara kekerasan kepala masyarakat Surabaya yang tidak mau mematuhi ultimatum Mansergh, pecahlah perang besar 10 November 1945,” pungkas Autar. *

Salam Perlawanan…!!!

Diam Tertindas atau Bergerak Melawan#

Gimme a P
Gimme an E
Gimme an E
Gimme a W
Gimme an E
Gimme an E
Go go PEE WEE go go cmon cmon!
Go go PEE WEE go goooo!
Making love in back seat of the car
With the ocean breeze slipping thru your hair
This is the best part of my life
Far away from the classroom drama
Making sure we are having a good time
These are the things that makes me smile
Pick it up! pick it up! with this song tonite
Get ready for a revolution
(The long recess is over)
Freshmen’s year has gone gotta take it away with all we’ve got
(all got we’ve got)
Get ready for a revolution
(The long recess is over)
And i know everything will be alright
Tu tu ru tu ru tu ru ru ru
Tu tu ru tu ru makes me wanna say
Tu tu ru tu ru tu ru ru ru
Tu tu ru tu ru makes me wanna say
I know this weekend will be better than the last
Sometimes life gets harder everyday
Right now things will never be the same
Stand up! with everything you’ve got
Cus after all we’re the one whos winning

Making love in the backseat of the car
With the ocean breeze slipping thru your hair
This is the best part of my life